jpnn.com, JAKARTA - Nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan hari ini melemah 52 poin atau 0,29 persen jadi Rp 17.796 per USD dari sebelumnya Rp 17.744 per USD.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan ini dipicu serangan baru AS ke Iran.
“Militer AS mengklaim bahwa serangan tersebut dilakukan untuk membela diri, dan bahwa gencatan senjata dengan Iran tetap berlaku,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.
Atas peristiwa tersebut, setiap aksi militer baru berpotensi mempersulit negosiasi perdamaian yang sedang berlangsung antara AS dan Iran, terutama pasca Teheran berulang kali memperingatkan AS untuk tidak melakukan serangan lebih lanjut.
Sebelumnya, AS dan Iran telah mencapai kesepakatan kerangka kerja untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump sendiri mengisyaratkan kemajuan dalam negosiasi dengan Iran, dan mengklaim bahwa Republik Islam tersebut akan menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya, tetapi Iran membantah rencana untuk melepaskan uranium.
Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah ini berdampak terhadap meningkatnya biaya produksi perusahaan, khususnya industri yang bergantung pada bahan baku impor dan pasar ekspor sehingga meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK).
Lonjakan PHK disebut terjadi hanya dalam satu bulan terakhir.





































