jpnn.com - Negeri ini masih akrab dengan sekolah rusak. Harga pangan mahal, persoalan stunting serta pengangguran muda.
Selain itu, petani menjerit karena pupuk. Rakyat kecil harus berpikir dua kali untuk berobat.
Namun, negara akhirnya menemukan prioritas yang tampaknya paling mendesak dengan membeli 1.098 ekor sapi kurban dengan anggaran APBN sekitar Rp 100 miliar.
Luar biasa.
Barangkali memang beginilah cara baru negara memahami penderitaan rakyat. Bukan diselesaikan, tetapi disembelihkan secara simbolik setahun sekali.
Tentu tidak ada yang salah dengan kurban. Yang bermasalah adalah ketika uang rakyat digunakan untuk program yang begitu kuat aroma personalisasi kekuasaannya.
Sebab publik tentu sulit memisahkan antara “bantuan Presiden” dan “uang negara”, apalagi ketika seluruh narasi komunikasinya dibangun mengitari figur pemimpin.
APBN bukan rekening pribadi penguasa. APBN adalah hasil keringat rakyat.







































