jpnn.com, JAKARTA - Upaya melindungi anak di ruang digital dinilai tidak cukup hanya mengandalkan fitur pemblokiran atau regulasi.
Sejumlah orang tua menilai pendekatan komunikasi keluarga justru lebih efektif dalam membangun ketahanan anak menghadapi dunia maya.
Salah satunya disampaikan Wiwik Ningsih (44), ibu dari seorang remaja di Jakarta.
Dia mengaku tengah mencari keseimbangan antara menjaga keamanan anak dan tetap memberi ruang eksplorasi di internet yang kini menjadi bagian dari kehidupan generasi muda.
Menurut Wiwik, langkah pemerintah melalui Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS) patut diapresiasi, namun tidak bisa menjadi satu-satunya solusi.
“PP TUNAS itu memang perlu, dan saya apresiasi langkah Komdigi yang mulai mengajak platform digital untuk memiliki tanggung jawab sosial pada perlindungan remaja dan anak-anak Indonesia. Tapi jujur saja, saya khawatir,” ujarnya.
Dia mengingatkan orang tua tidak boleh merasa tugas pengawasan selesai hanya karena sudah ada aturan.
“Jangan sampai dengan adanya aturan ini, kita sebagai orang tua malah berpikir tugas kita sudah selesai. Seolah-olah kalau sudah ada hukumnya, anak kita otomatis aman. Itu pola pikir yang berbahaya,” tegasnya.











































