jpnn.com, JAKARTA - Pasar timah global pada 2026 diperkirakan masih bergerak dalam dinamika yang ketat.
Permintaan yang terus meningkat dari sektor elektronik hingga teknologi energi baru diproyeksikan tumbuh lebih cepat dibandingkan kemampuan pasokan global untuk mengejarnya.
Kondisi tersebut berpotensi memicu volatilitas harga sekaligus membuka ruang bagi negara produsen utama untuk memainkan peran yang lebih besar dalam menjaga keseimbangan pasar.
Founder Reforminer Institute Pri Agung Rakhmanto mengatakan tren permintaan timah global masih akan tetap kuat dalam beberapa tahun ke depan.
Hal itu terutama didorong oleh perkembangan industri elektronik, semikonduktor, hingga kendaraan listrik yang makin pesat.
“Timah adalah salah satu mineral strategis karena penggunaannya sangat luas, terutama pada industri elektronik melalui bahan solder yang menjadi komponen penting dalam hampir semua perangkat elektronik modern,” ujar Pri Agung, pada Selasa (17/3).
Menurut dia, secara global, lebih dari separuh konsumsi timah memang berasal dari sektor solder untuk industri elektronik.
Seiring meningkatnya produksi perangkat digital, kebutuhan terhadap logam ini juga terus bertambah. Di sisi lain, produksi timah global masih menghadapi berbagai tantangan.










































