jpnn.com - Ada satu kebiasaan tua manusia yang diwariskan lintas zaman dan sampai hari ini ternyata masih sangat hidup: ketika seseorang menyampaikan kritik yang tajam, disertai data, argumen, dan keberanian moral, yang diserang bukan isi kritiknya, melainkan orang yang menyampaikannya.
Pesannya dibiarkan menggantung tanpa jawaban, tetapi pembawa pesannya diadili habis-habisan.
Inilah budaya shoot the messenger (membunuh pembawa pesan): sebuah kebiasaan intelektual yang malas dan pengecut, karena tidak berani berhadapan dengan substansi persoalan, namun justru sibuk menyerang pribadi yang menyampaikan kritik.
Ironisnya, sikap seperti ini sering disamarkan dengan istilah-istilah yang terdengar mulia: “etika”, “loyalitas”, “demi menjaga persatuan”, “menjaga nama baik lembaga”, “menghindari kegaduhan”, atau “demi stabilitas organisasi”.
Padahal dalam banyak kasus, yang sebenarnya sedang dijaga bukan persatuan yang sehat, melainkan kenyamanan segelintir orang, citra kekuasaan, dan budaya anti-kritik yang takut tersentuh koreksi.
Hari ini media sosial bukan sekadar ruang komunikasi, melainkan mesin pembentuk persepsi massal.
Di tangan masyarakat yang matang, media sosial bisa menjadi alat pendidikan publik dan kontrol sosial. Tetapi di tangan budaya yang malas berpikir, media sosial berubah menjadi arena penghakiman massal yang brutal.
Algoritma lebih menyukai kemarahan daripada ketenangan, sensasi daripada kedalaman, dan keributan daripada refleksi.







































