jpnn.com, JAKARTA - Ketenangan warga kawasan Kembangan dan Kebon Jeruk, Jakarta Barat pada Minggu (15/03) malam, tiba-tiba terganggu oleh hiruk-pikuk aksi sekelompok remaja. Pukul 21.00 WIB, waktu yang dikenal sebagai jam rawan jalanan yang seharusnya menjadi ruang publik aman justru dikuasai oleh konvoi sepeda motor besar-besaran.
Sepanjang Jalan Panjang hingga kawasan Joglo, puluhan remaja melaju dengan motor mereka, membawa bendera berukuran besar yang berkibar kencang, dan sesekali menyalakan petasan di tengah arus lalu lintas. Bunyi ledakan petasan yang memekakkan telinga bergema di udara, disusul kepulan asap yang menyelimuti jalan raya.
Pemandangan ini bukan sekadar euforia remaja yang berbahaya, melainkan sebuah gangguan ketertiban umum yang nyata. Pengguna jalan lain yang melintas di sana terpaksa harus waspada ekstra, bahkan beberapa di antaranya memilih untuk menepi sejenak demi menghindari risiko kecelakaan. Atmosfer intimidatif pun tercipta, membuat warga sekitar merasa tidak nyaman dan khawatir akan keselamatan mereka.
Kekecewaan mendalam pun muncul dari masyarakat. Mereka mempertanyakan keberadaan aparat kepolisian di saat-saat krusial tersebut. "Sepertinya warga ingin tahu kenapa polisi tidak ada di lokasi saat kejadian. Polisi harus memang patroli di jam-jam rawan," ujar Ahmad kepada media.
Kamal, warga Kembangan Selatan, juga menyuarakan hal serupa. Dia mengakui bahwa mendekati Lebaran, kepolisian memang biasanya membagi fokus pengamanan, termasuk ke Pos Pengamanan (Pospam) Mudik Lebaran. Namun, menurutnya, hal tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan patroli rutin di pemukiman dan jalur utama.
"Fokus pada pengamanan mudik bukan jadi alasan untuk tidak berpatroli di titik rawan kriminalitas dan gangguan ketertiban," tegas Kamal.
Absennya petugas di lapangan saat konvoi petasan berlangsung memicu desakan agar pimpinan Polri mengambil langkah tegas. Warga meminta Kapolda Metro Jaya untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja para kapolsek di jajaran Jakarta Barat. Mereka berharap, evaluasi ini dapat meningkatkan kinerja kepolisian dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, terutama di jam-jam rawan.
Secara teknis, di bulan Maret 2026 yang mendekati Lebaran, Polri memang menggelar Operasi Ketupat. Pengerahan personel ke titik-titik statis seperti terminal, stasiun, dan gerbang tol sering kali membuat frekuensi patroli mobile di jalur arteri seperti Kembangan dan Kebon Jeruk berkurang.
Selain itu, keterbatasan armada yang dialokasikan untuk pengawalan arus mudik juga membuat respons terhadap gangguan seperti konvoi remaja sering kali terlambat. Remaja pun sering memanfaatkan celah waktu, seperti saat pergantian shift petugas atau saat petugas sedang fokus pada titik keramaian lain, untuk melakukan aksi mereka.
Kritik dari warga ini sangat valid. Secara sosiologis, pembiaran terhadap konvoi petasan bisa menjadi pemicu aksi yang lebih besar, seperti tawuran antar-kelompok. Keamanan bukan hanya soal menjaga titik keberangkatan pemudik, melainkan juga memastikan setiap jengkal jalanan Jakarta tetap aman bagi mereka yang tidak pulang kampung. (cuy/jpnn)










































