jpnn.com, JAKARTA - Ketua DPP Garuda Astacita Nusantara, Muhammad Burhanuddin, menyoroti situasi ruang publik Indonesia yang dinilai semakin mengkhawatirkan akibat perang narasi.
Menurutnya, saat ini kebenaran tidak lagi dicari secara jujur, melainkan diperebutkan demi kemenangan kelompok tertentu.
Burhanuddin menilai masyarakat tengah terseret ke dalam dua kutub ekstrem yang membahayakan demokrasi. Di satu sisi, terdapat mesin propaganda dan buzzer yang memaksakan narasi bahwa seluruh program pemerintah tanpa cela.
Di sisi lain, muncul gelombang cancel culture yang secara agresif menafikan semua kebijakan pemerintah dengan label gagal sebelum diuji secara objektif.
Menurutnya, perang narasi telah menyeret masyarakat ke dalam dua kutub ekstrem yang sama-sama berbahaya bagi demokrasi.
“Akibatnya, objektivitas seolah kehilangan tempat berpijak. Ia mati di tengah, terhimpit oleh dua ekstrem yang sama-sama merasa paling benar,” ujar Buhanuddin dalam pernyataan tertulisnya.
Ia menilai bangsa ini perlahan kehilangan kemampuan untuk mengatakan sesuatu yang sederhana namun penting, yakni bahwa sebuah program pemerintah bisa saja baik dan layak didukung, tetapi tetap memiliki kekurangan yang perlu dikritik dan diperbaiki.
Dalam situasi seperti ini, menurutnya, pemerintah perlu melakukan refleksi mendalam. Sikap defensif yang berlebihan, terlebih jika disertai intimidasi atau pembungkaman kritik, justru akan memperlebar jurang ketidakpercayaan publik.














































