jpnn.com - Idulfitri bukan sekadar momentum ritual keagamaan yang menandai berakhirnya ibadah puasa Ramadan. Ia adalah titik kulminasi dari perjalanan spiritual yang sarat makna—kembali kepada fitrah, kepada kesucian jiwa, kepada kemanusiaan yang utuh.
Dalam konteks Indonesia, Idulfitri menemukan kekayaan ekspresinya melalui tradisi mudik, sebuah fenomena sosial-budaya yang unik, masif, dan penuh makna.
Mudik bukan hanya perpindahan fisik dari kota ke desa, dari perantauan ke kampung halaman. Ia adalah perjalanan batin—kerinduan kepada asal-usul, kepada orang tua, keluarga, dan akar sosial yang membentuk identitas kita.
Dalam mudik, terdapat nilai silaturahim yang menjadi inti ajaran Islam. Rasulullah SAW menegaskan bahwa silaturahim dapat memperpanjang umur dan melapangkan rezeki.
Maka mudik, dalam perspektif ini, bukan sekadar tradisi, melainkan praktik keagamaan yang hidup dalam kebudayaan Nusantara.
Lebih dari itu, mudik juga mencerminkan struktur sosial-ekonomi bangsa. Arus balik manusia dari pusat-pusat ekonomi ke daerah menunjukkan adanya ketimpangan pembangunan antara kota dan desa.
Namun di sisi lain, mudik menghadirkan redistribusi ekonomi secara temporer. Perputaran uang di desa meningkat, usaha kecil menggeliat, dan kehidupan sosial kembali hidup.
Dalam perspektif kesejahteraan sosial, ini adalah momentum yang perlu dikelola dan diperkuat menjadi strategi pembangunan yang berkeadilan.











































