jpnn.com - "Lai! Lai! Lai!," teriak Warijan di dekat pintu bus. Peserta pun bergegas masuk bus.
Mereka adalah pengusaha yang ikut tur bisnis Disway di seputar Mojokerto (Disway Explore Business with Dahlan Iskan, East Java Series-Mojokerto).
Rupanya Warijan, panitianya, sedang mempraktikkan apa yang ia alami selama ikut tur bisnis Disway di Tiongkok bulan lalu (Disway Business Adventures to Tiongkok with Dahlan Iskan & Novi Basuki).
"Ayo! Ayo! Ayo!" begitulah kira-kira artinya. Atau "silakan! Silakan! Silakan!”.
Itulah kebiasaan di Tiongkok untuk minta siapa saja bergegas: apakah di bus atau pun di depan ruang makan. Memang ada kata yang lebih terasa menghormati: "qing...".
Akan tetapi kata itu tergolong "kromo inggil" yang hanya dipakai untuk orang yang lebih senior. Kata "lai !" karena diucapkan tiga kali mengandung makna "agar bergegas".
Untuk keinginan bergegas sebenarnya bisa ditambah kata "kuai yi dian!". Rupanya Warijan sulit menirukan kata tambahan itu. Ayolah, cepatlah sedikit.
Kami memang perlu cepat-cepat berangkat. Hari itu saya menambahkan dua acara di luar jadwal. Dua-duanya non-bisnis: ke museum wayang, lalu ke museum masa kecil Bung Karno. Itu gara-gara promosi yang dilakukan Wali Kota Mojokerto Ning Ita (Ika Puspitasari) di acara makan siang di kantornya.

.jpeg)





































