jpnn.com, SURABAYA - Ketua Perhimpunan Peneliti Indonesia (PPI) Jawa Timur Dr Anang MP menegaskan arah baru penelitian daerah yang lebih aplikatif, industrial, dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Penegasan tersebut mengemuka dalam Rapat Kerja Evaluasi Kinerja 2025 PPI Jawa Timur di CWC Kebun Raya Purwodadi, Senin (9/2/2026).
Evaluasi ini bertujuan bukan untuk mencari kesalahan personal maupun lembaga, melainkan untuk mengukur sejauh mana riset para peneliti Jawa Timur masih relevan, berdampak, dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, khususnya petani dan pelaku usaha di sektor pangan dan pertanian.
Ketua Dewan Pakar PPI Korwil Jawa Timur, Prof. Dr. Ir. Abdul Hamid, M.P., menegaskan peneliti tidak boleh lagi sekadar menjadi penghasil laporan, publikasi, atau prosiding.
“Peneliti hari ini harus hadir sebagai solusi nyata. Jika riset berhenti di meja diskusi dan rak laporan, maka publik berhak mempertanyakan keberadaan kita,” tegas Prof. Hamid yang kini merupakan Peneliti Utama di Badan Riset dan Inovasi Nasional dan BRIDA Jawa Timur.
Evaluasi 2025: Kuat di Publikasi, Lemah di Hilirisasi
Dalam evaluasi kinerja tahun 2025, PPI Jawa Timur mencatat capaian yang cukup baik dari sisi produktivitas ilmiah.
Namun, dampak ekonomi dan sosial riset dinilai masih belum optimal.










































