jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana, menyampaikan perlunya ketepatan ilmiah dalam penyusunan definisi istilah-istilah ilmiah di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Hal ini disampaikan menanggapi isu perubahan definisi kata 'sawit' dan potensi krisis kepercayaan akademik.
Pendiri Historia.id ini menegaskan bahwa KBBI bukan sekadar kamus bahasa, melainkan juga instrumen pendidikan dan ilmu pengetahuan yang vital.
"Kamus negara harus mencerminkan kecerdasan kolektif bangsa. Tanpa pijakan ilmiah, bahasa resmi bisa kehilangan fungsi dan wibawa pendidikannya," ujar Bonnie Triyana, Jumat (7/2).
Menurut legislator dari Fraksi PDI Perjuangan ini, pendekatan leksikografi modern yang mengutamakan frekuensi penggunaan berisiko mengabaikan akurasi ilmiah, khususnya untuk istilah yang berasal dari disiplin ilmu tertentu. Ketidakselarasan definisi dalam KBBI dengan konsensus sains dapat menimbulkan kebingungan konseptual serta melemahkan proses pendidikan dan penelitian.
“Ketika definisi istilah ilmiah tidak selaras dengan pengetahuan sains, maka risiko kebingungan akademik dan erosi kepercayaan publik menjadi nyata,” kata Bonnie.
Politisi berlatar belakang sejarawan ini menambahkan bahwa negara harus memastikan koordinasi yang kuat antara lembaga bahasa dan lembaga sains.
Untuk menjaga kredibilitas KBBI sebagai rujukan akademik, Bonnie Triyana mendorong beberapa langkah korektif. Langkah tersebut mencakup pelibatan aktif pakar dari berbagai disiplin ilmu dalam proses penyusunan kamus, serta menjaga keseimbangan antara pendekatan deskriptif bahasa dan keharusan ketepatan ilmiah. Hal ini dinilai penting agar KBBI tetap akurat, kredibel, dan berwibawa di mata akademisi dan masyarakat. (tan/jpnn)










































