jateng.jpnn.com, BANJARNEGARA - Cuaca ekstrem yang disertai hujan berintensitas tinggi dan angin musiman kencang memukul produksi cabai rawit merah di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Akibatnya, pasokan di tingkat petani menurun dan harga mulai bergejolak.
Pegiat Asosiasi Champion Cabai Indonesia (ACCI) Banjarnegara Teguh Suprapto menyebut faktor cuaca menjadi penyebab utama kerusakan tanaman di lapangan.
Hujan yang turun terus-menerus membuat banyak tanaman busuk, sementara angin kencang merobohkan batang cabai yang relatif rapuh.
“Faktor utamanya cuaca. Hujan terus-menerus dan angin musiman yang kencang membuat banyak tanaman cabai rawit rusak dan roboh,” kata Teguh di Banjarnegara, Kamis (5/2).
Kondisi tersebut berdampak langsung pada ketersediaan stok. Produksi menurun, sementara permintaan pasar tetap tinggi, sehingga harga perlahan terdorong naik. Meski begitu, harga di Banjarnegara masih tergolong lebih rendah dibanding daerah lain.
Saat ini harga cabai rawit merah di tingkat petani Banjarnegara berada di kisaran Rp45.000–Rp50.000 per kilogram. Angka itu masih di bawah harga di wilayah sekitar seperti Banyumas yang sudah menyentuh Rp75.000 per kilogram.
“Di Banyumas saja sudah di kisaran Rp75.000 per kilogram, sementara di Banjarnegara kemarin sore masih berkisar Rp45.000–Rp50.000,” ujarnya.
Teguh menjelaskan cabai rawit merah memang termasuk komoditas yang sangat sensitif terhadap perubahan cuaca. Selain mudah roboh diterpa angin, tanaman ini juga rentan terserang penyakit saat kelembapan tinggi.








































