jpnn.com, JAKARTA - Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) dan Pusat Sejarah (Pusjarah) TNI tengah menjalin kolaborasi dalam rangka revitalisasi narasi dan konten museum di Monumen Pancasila Sakti.
Untuk itu, Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon memimpin diskusi kelompok terpimpin atau forum group discussion (FGD) bersama Pusjarah TNI di Jakarta, Senin (6/7/2026).
Dalam persamuhan di Kantor Kemenbud, Jakarta, itu, Menteri Fadli menyatakan bahwa museum di kawasan Monumen Pancasila Sakti merupakan open air museum yang menyimpan jejak sejarah pemberontakan pasca-kemerdekaan. Menurut dia, museum di kawasan Monumen Pancasila Sakti bukan sekadar destinasi wisata, melainkan juga ruang edukasi sejarah untuk generasi muda.
Oleh karena itu, Menteri Fadli Menteri Fadli menegaskan pameran yang ditampilkan di area museum Monumen Pancasila Sakti harus bersandar pada fakta-fakta.
“Hal ini juga menjadi tantangan untuk membuat narasi serta penggambaran diorama yang sesuai dengan linimasa komprehensif. Menurut saya, perlu dilakukan pembaharuan dan penambahan koleksi untuk menampilkan runtutan peristiwa secara lengkap,” ujar Menteri Fadli.
Menteri berlatar belakang sejarawan itu menambahkan revitalisasi museum bukan untuk menghilangkan atau mengubah sejarah, melainkan justru demi menghadirkan fakta-fakta sejarah yang didasarkan pada sumber-sumber yang valid, seperti dokumen, buku, arsip, dan surat kabar.
Adapun untuk menciptakan tata pamer museum yang inovatif, Menteri Fadli mendorong pemanfaatan teknologi terkini dan partisipasi aktif seniman dalam pembuatan diorama. Menurut dia, tata pamer museum harus mengikuti zaman, sehingga memerlukan dukungan teknologi immersive serta diorama yang menceritakan linimasa secara komprehensif.
Selain itu, Menteri Fadli juga mengusulkan agar museum di Monumen Pancasila Sakti sebagai museum in-situ memiliki alur kunjungan yang lebih baik. Dengan demikian, pengunjung museum bisa memperoleh pengalaman sekaligus memahami alur narasi secara utuh.







































