jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menegaskan bahwa peringatan 20 tahun peristiwa Gempa Bumi 2006 harus menjadi momentum refleksi bagi seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat. Peristiwa tersebut dijadikan pijakan penting untuk mengukur sejauh mana kesiapan DIY dalam menghadapi risiko bencana di masa depan.
Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti menyampaikan dalam keterangannya di Yogyakarta, Minggu (25/5), bahwa pengalaman pahit dua dekade silam telah mendorong Pemerintah DIY untuk terus memperkuat ekosistem kesiapsiagaan bencana.
Menurut Ni Made, kesiapsiagaan bukan sekadar tindakan situasional, melainkan sebuah ekosistem komprehensif yang harus dibangun secara berkelanjutan.
"Kesiapsiagaan mencakup infrastruktur umum yang aman dan berfungsi saat darurat, sistem informasi dan peringatan dini yang cepat, akurat, dan mudah dipahami warga, serta pendidikan kebencanaan sejak dini," ujar Ni Made.
Ia menegaskan bahwa kebijakan kebencanaan di DIY harus dibangun dengan lebih matang dan terarah, dengan menjadikan kesiapsiagaan sebagai budaya hidup sehari-hari di tengah masyarakat.
Dalam upaya membangun masyarakat yang tangguh, Pemda DIY mengedepankan nilai-nilai falsafah Jawa.
Prinsip Eling lan Waspada (ingat dan waspada) serta Hamemayu Hayuning Bawana (menjaga harmoni dan keselamatan dunia) menjadi landasan bagi warga untuk selalu sadar akan situasi sekitar dan menjaga keseimbangan antara manusia dengan lingkungan.
"Peringatan 20 tahun gempa ini adalah janji bersama bahwa setiap pembangunan harus menghitung aspek keselamatan. Setiap warga berhak hidup dalam lingkungan yang lebih siap, tangguh, dan berdaya," tambahnya.


.jpeg)
































