jabar.jpnn.com, KOTA BANDUNG - Yayasan Nurul Huda Conggeang mengungkap dugaan peretasan akun maker yang digunakan untuk operasional sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sebagai mitra resmi Badan Gizi Nasional (BGN), yayasan tersebut meminta BGN segera melakukan audit menyeluruh terhadap aliran dana yang diduga keluar dari rekening virtual milik yayasan sejak pertengahan April 2026.
Ketua Umum Yayasan Nurul Huda Conggeang, Eka Anugrah, mengatakan pihaknya saat ini mengelola sejumlah dapur MBG yang tersebar di wilayah Bogor dan Sumedang, Jawa Barat.
Dapur-dapur tersebut beroperasi di SPPG Pamijahan 4 Kabupaten Bogor, SPPG Leuwiliang 4 Kabupaten Bogor, SPPG Tarikolot 2 Sumedang, SPPG Kota Kaler 5 Sumedang, SPPG Sukamulya Sumedang, SPPG Girimukti Sumedang, dan SPPG Pamulihan 3 Sumedang.
Menurut Eka, dalam menjalankan operasional dapur MBG, yayasan memperoleh akun maker dari BGN.
Akun tersebut memiliki fungsi penting untuk mengajukan rencana belanja dapur sekaligus pengajuan anggaran pembayaran insentif yang kemudian harus melalui proses verifikasi dan persetujuan Kepala SPPG.
"Dalam menjalankan dapur-dapur di SPPG Yayasan Nurul Huda Conggeang mendapatkan akun maker dari BGN yang berfungsi untuk mengajukan rencana pembelanjaan dapur dan mengajukan anggaran untuk pembayaran insentif, pengajuan ini akan diperiksa dan disetujui oleh kepala SPPG," kata Eka, dalam keterangannya, Senin (8/6/2026).
Eka menegaskan bahwa Yayasan Nurul Huda Conggeang merupakan pemilik sah akun maker tersebut berdasarkan petunjuk teknis yang berlaku di BGN.




































