jpnn.com, SURABAYA - Para pelaku industri kue rumahan di Kampung Kue Rungkut Lor, Surabaya, Jawa Timur, tengah menghadapi dilema.
Mereka kesulitan mencari alternatif tepung beras yang mampu menggantikan produk kemasan bermerek yang selama ini menjadi bahan baku utama pembuatan berbagai kue tradisional, seperti apem, nagasari, carabikang, putu ayu, hingga kue lapis pelangi.
Selama ini, tepung beras bermerek tersebut banyak dibuat dari beras pecah impor, sehingga larangan impor beras ikut memengaruhi ketersediaan bahan baku.
Sementara itu, penggunaan tepung beras berbahan dasar beras lokal dinilai menghasilkan kualitas kue yang jauh menurunm
Pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sekaligus pemilik toko kue Dimmar Berprabu, Sumarti mengaku bergantung pada tepung beras kemasan karena kualitasnya stabil.
Dia memproduksi 200–300 kue apem per hari dan bisa mencapai seribu potong saat Ramadan.
Namun, ketika mencoba tepung beras dari beras lokal, hasilnya mengecewakan. Ia menyebut kualitas tersebut membuat pelanggan komplain dan berdampak langsung pada usahanya. Pendapatannya pun menurun.
“Warna apemnya kusam kecoklatan, adonannya sulit mengembang, dan setelah matang malah lembek seperti bubur,” kata Sumarti dalam keterangannya dikutip Minggu (30/11).






































