Tokoh NU dan Bung Karno: Warisan Islam Kebangsaan di Museum Multatuli

5 hours ago 16

 Warisan Islam Kebangsaan di Museum Multatuli

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Sejumlah tokoh nasional membahas hubungan antara Bung Karno, Nahdlatul Ulama (NU), dan Islam kebangsaan dalam diskusi bertema “Bung Karno, NU dan Islam Kebangsaan” yang digelar melalui program Aspirasi Bonnie Triyana di Museum Multatuli, Rangkasbitung, Banten, Kamis (18/6). Foto: Source for jpnn

jpnn.com, RANGKASBITUNG - Sejumlah tokoh nasional membahas hubungan antara Bung Karno, Nahdlatul Ulama (NU), dan Islam kebangsaan dalam diskusi bertema “Bung Karno, NU dan Islam Kebangsaan” yang digelar melalui program Aspirasi Bonnie Triyana di Museum Multatuli, Rangkasbitung, Banten, Kamis (18/6).

Acara itu menghadirkan mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, aktivis dan putri Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid, Inayah Wahid, Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora BRIN Muhammad Najib Azca, serta Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Savic Ali.

Lukman Hakim Saifuddin mengungkapkan bahwa kedekatan Bung Karno dengan NU tidak lahir karena kesamaan organisasi, sebab Soekarno sejak muda dikenal memiliki kedekatan dengan Muhammadiyah. Namun, keduanya memiliki titik temu dalam pandangan mengenai Islam kebangsaan.

"Yang mempertemukan keduanya, Bung Karno dan NU, adalah paham Islam kebangsaan sebagaimana tema diskusi kita hari ini. Pemahaman dan pengamalan Islam kebangsaan itulah yang menjadi daya rekat di antara keduanya,” kata Lukman.

Menurutnya, Bung Karno sejak usia muda telah banyak bersentuhan dengan pemikiran Islam melalui lingkungan HOS Tjokroaminoto dan sejumlah tokoh pembaharu Islam. Pemikiran itu kemudian berkembang hingga melahirkan gagasan tentang hubungan antara agama dan negara dalam konteks Indonesia. Lukman menilai Islam dan negara memiliki hubungan yang saling membutuhkan sekaligus saling mengontrol.

"Negara membutuhkan agama karena negara bisa bertindak berlebihan, melewati batas, dan nilai-nilai agama dapat menjadi kontrol. Sebaliknya, agamawan juga bisa menjadi ekstrem dalam memahami ajaran agama, sehingga negara memiliki peran melakukan pengawasan agar tetap berada pada jalan yang seimbang,” ujarnya.

Sementara itu, Inayah Wahid mengungkit hubungan Bung Karno dan NU sejak masa sebelum kemerdekaan. Dia mengutip berbagai catatan sejarah mengenai peran tokoh NU dalam proses perumusan dasar negara. Menurut Inayah, para tokoh Islam saat itu menunjukkan sikap kebangsaan dengan menempatkan persatuan Indonesia di atas kepentingan golongan.

“Ada sesuatu yang jauh lebih besar. Esensi agama tetap keluar meskipun tidak tertulis secara formal dalam bentuk tertentu. Yang terpenting adalah adanya rasa ikatan bersama,” ujar Inayah.

Lukman, Inayah, dan Najib bahas relasi Bung Karno-NU dalam Islam kebangsaan di Rangkasbitung.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |