jpnn.com, JAKARTA - Kementerian Agama (Kemenag) melakukan terobosan besar dalam dunia pendidikan dengan menjadikan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Ekoteologi sebagai fondasi utama pembelajaran di madrasah.
Pendekatan humanis ini terbukti ampuh mencetak siswa yang tidak hanya unggul secara intelegensia, tetapi juga memiliki kedalaman karakter.
Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kemenag Nyayu Khadijah menjelaskan KBC bukan sekadar konsep, melainkan regulasi yang telah diuji coba di 34 provinsi.
Kurikulum ini menitikberatkan pada keseimbangan antara prestasi akademik dan penguatan spiritualitas.
"Kami ingin prestasi siswa sejalan dengan penguatan nilai kemanusiaan. Kurikulum Berbasis Cinta dirancang agar siswa belajar dalam suasana yang mendukung perkembangan jiwa mereka," ujar Nyayu Khadijah, Sabtu (3/1/2026).
Menurutnya, cinta yang dimaksud adalah kepedulian guru terhadap talenta murid, serta rasa kasih sayang antarsesama siswa yang menciptakan lingkungan belajar inklusif dan ramah anak.
Selain penguatan karakter manusia, Kemenag juga mengintegrasikan nilai-nilai agama dengan kelestarian alam melalui konsep Ekoteologi. Implementasi ini diwujudkan melalui Madrasah Adiwiyata.
Saat ini terdapat 1.826 madrasah yang menjadi baseline nasional sekolah berwawasan lingkungan.














































