jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi X DPR RI Habib Syarief mendesak pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengusut tuntas latar belakang YBS, seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) melakukan aksi bunuh diri.
Terlebih lagi, kata dia, belakangan muncul dugaan aksi bunuh diri dipicu ketidakmampuan keluarga memenuhi permintaan korban membeli buku dan alat tulis.
"Kasus ini menjadi alarm keras bahwa masih ada anak-anak kita yang tidak mendapatkan kebutuhan belajar paling mendasar. Ini tidak boleh dibiarkan," ujar Habib di Jakarta, Selasa (3/2).
Legislator fraksi PKB itu menilai peristiwa anak SD bunuh diri menjadi potret buram dunia pendidikan nasional.
Sebab, lanjut Habib, kejadian itu menunjukkan masih adanya celah besar dalam pemenuhan hak dasar belajar bagi anak dari keluarga kurang mampu.
Dia mengatakan Kemendikdasmen harus menginvestigasi soal kemungkinan ada kelalaian sistemik dalam penyaluran bantuan pendidikan di NTT.
"Sebab, sepengetahuan kami anggaran pendidikan dari APBN itu besar, seharusnya kebutuhan dasar pendidikan seperti buku dan alat tulis bisa terpenuhi,” kata Habib.
Dia mempertanyakan efektivitas mekanisme deteksi dini pihak sekolah dan pemerintah daerah terhadap siswa yang mengalami tekanan ekonomi maupun psikososial.



















.jpeg)
























