jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi III DPR RI Habib Aboe Alhabsyi mengkhawatirkan penyalahgunaan Whip Pink atau gas Nitrous Oxide (N2O) di kalangan anak muda.
Hal tersebut disampaikannya saat hadir dalam rapat kerja dengan Kepala BNN Komjen Suyudi Ario Seto di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (3/2).
Mulanya, Aboe menyampaikan catatan kritis terkait alokasi anggaran laboratorium di BNN yang terkonsentrasi ke penguatan sarana drug signature analysis.
Dia meminta penjelasan detail Suyudi mengenai efektivitas sarana tersebut dalam memetakan jaringan narkoba.
"Kemudian saya melihat di halaman 42, Pak, ada usulan tunggal yang sangat besar, sarana drug signature sarana drug signature analysis, senilai Rp55,74 miliar. Ini hampir menyerap 93 persen dari total anggaran bidang laboratorium. Mohon penjelasannya, Pak," ungkap Habib Aboe Alhabsyi.
Aboe mempertanyakan investasi besar di sarana drug signature analysis untuk mendeteksi ancaman narkotika jenis baru atau New Psychoactive Substances (NPS) serta jaringan internasional.
"Apakah alat ini sudah mampu mengidentifikasi varian new substantif yang baru masuk ke Indonesia," tanya legislator fraksi PKS itu.
Aboe kemudian mengungkapkan kekhawatiran terkait maraknya penggunaan whip pink yang tengah digandrungi remaja demi merasakan efek euforia.



















.jpeg)
























