jpnn.com, JAKARTA - Pekerjaan rumah tangga sering kali dianggap sebagai aktivitas sederhana yang hanya memerlukan tenaga fisik.
Namun, di balik aktivitas sehari-hari seperti mencuci piring, membersihkan kamar mandi, merapikan kamar, atau mengatur kebutuhan rumah tangga lainnya, terdapat beban mental yang sering kali tidak terlihat namun terus berjalan di dalam pikiran seseorang.
Psikolog Adriana Amalia, M.Psi menjelaskan pekerjaan rumah tangga tidak hanya melibatkan aktivitas fisik, tetapi juga proses mental yang dikenal sebagai mental labor atau cognitive household labor. Aktivitas ini mencakup mengingat, merencanakan, mengantisipasi, mengoordinasikan, serta memantau berbagai kebutuhan rumah tangga yang berlangsung secara terus menerus.
"Banyak orang menilai pekerjaan rumah tangga dari hasil akhirnya, apakah rumah bersih atau pekerjaan selesai. Padahal ada serangkaian proses berpikir yang terjadi di baliknya, mulai dari mengingat kebutuhan rumah, mengatur jadwal, hingga memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Aktivitas mental ini dapat berlangsung tanpa henti dan pada akhirnya memicu kelelahan emosional," jelas Adriana.
Menurutnya, kondisi ini semakin sering terjadi pada masyarakat urban yang harus menjalankan banyak peran sekaligus dalam satu waktu. Seseorang dapat berperan sebagai karyawan, pasangan, orang tua, pengelola rumah tangga, hingga caregiver bagi anggota keluarga lainnya. Ketika berbagai tanggung jawab tersebut berjalan bersamaan, seseorang dapat mengalami role overload atau kelebihan beban peran yang berpotensi meningkatkan stres, kelelahan emosional, burnout, hingga menurunkan kualitas hidup dan kepuasan relasi.
Adriana menambahkan bahwa kelompok yang paling rentan mengalami beban mental rumah tangga adalah ibu bekerja, orang tua dengan anak kecil, caregiver keluarga, serta individu yang memiliki kecenderungan perfeksionis dan merasa harus mengendalikan seluruh urusan rumah tangga sendiri.
"Dalam kondisi seperti ini, support system menjadi sangat penting. Bantuan yang diterima bukan hanya mengurangi pekerjaan fisik, tetapi juga mengurangi beban pengambilan keputusan, pengawasan, dan antisipasi terhadap berbagai kebutuhan rumah tangga yang sering kali menguras energi psikologis," tambah Adriana.
Sejalan dengan kebutuhan tersebut, berbagai bentuk dukungan rumah tangga modern mulai berkembang untuk membantu masyarakat mengelola kesehariannya secara lebih efektif. Kehadiran support system yang tepat dinilai dapat membantu mengurangi beban pekerjaan rumah tangga sekaligus memberikan ruang bagi individu untuk mengalokasikan waktu dan energi mereka pada aspek kehidupan lainnya.




































