jpnn.com - Dalam perjalanan setiap bangsa, selalu ada momentum yang menentukan—saat di mana pilihan yang diambil bukan sekadar keputusan administratif biasa, melainkan lompatan peradaban yang akan dikenang sejarah.
Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, kini berada tepat di persimpangan itu.
Lebih dari sekadar peralihan kekuasaan, ini adalah momen untuk menjawab tantangan-tantangan besar yang telah lama menanti penyelesaian.
Gagasan-gagasan yang disampaikan Presiden Prabowo, baik sebelum maupun sesudah dilantik, telah diabadikan dalam empat bukunya: Paradoks Indonesia, Strategi Transformasi Bangsa, serta Kepemimpinan Militer 1 dan 2.
Karya-karya ini bukanlah sekadar catatan biasa. Di dalamnya tersirat kegelisahan seorang putra bangsa yang menyaksikan sendiri bagaimana ketimpangan, kemiskinan, dan ketergantungan pada asing masih membelenggu negeri yang sejatinya kaya raya.
Semua itu adalah manifestasi dari sebuah visi besar yang ia sebut sebagai Paradoks Indonesia: negeri yang kaya akan kekayaan alam dan budaya, namun mayoritas rakyatnya hidup dalam kondisi yang belum ideal, sebagaimana yang telah diimpikan oleh para founding fathers.
Memahami Paradoks yang Membelenggu
Dalam bukunya Strategi Transformasi Bangsa (2023), Presiden Prabowo menulis, "Tujuh puluh lima tahun lebih kita merdeka, kita bangun bangsa, tetapi hari ini kita seperti jadi tamu di rumah kita sendiri”









































