jpnn.com, GORONTALO - Kehadiran Pusat Logistik Berikat (PLB) di Gorontalo menjadi langkah strategis dalam membangun ekosistem logistik yang lebih efisien di kawasan tengah dan timur Indonesia.
Fasilitas yang dioperasikan TransContinent tersebut menjadi PLB pertama di wilayah yang selama ini kerap dianggap berada di pinggiran peta logistik nasional.
Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Sulawesi Bagian Utara (Sulbagtara) Zaky Firmansyah mengatakan pembangunan PLB di Gorontalo dilatarbelakangi masih terbatasnya fasilitas logistik di daerah yang sebenarnya memiliki potensi ekonomi besar.
“Bea Cukai melihat adanya kesenjangan antara potensi ekonomi daerah yang cukup besar dengan ketersediaan fasilitas logistik yang masih terbatas,” kata Zaky dalam keterangannya, Senin (22/6).
Menurut Zaky, keterbatasan tersebut selama ini menyebabkan barang yang menuju kawasan timur harus melalui pelabuhan hub di wilayah barat terlebih dahulu.
Kondisi itu berdampak pada meningkatnya biaya logistik dan waktu distribusi yang lebih panjang bagi pelaku usaha. PLB menawarkan skema yang berbeda dibandingkan gudang konvensional.
Barang impor dapat disimpan hingga tiga tahun tanpa harus langsung membayar bea masuk dan pajak.
Selain itu, barang dapat dikemas ulang dan didistribusikan kembali sesuai kebutuhan industri.








































