kaltim.jpnn.com, SAMARINDA - Perayaan Tahun Baru Imlek di Kota Samarinda menjadi momentum vital untuk mempererat ikatan kekeluargaan yang disimbolkan secara filosofis melalui sajian khas kue keranjang.
"Kudapan wajib saat Imlek adalah kue keranjang yang melambangkan kelekatan tali persaudaraan antar-anggota keluarga," kata warga keturunan Tionghoa asli Samarinda Fransisca Wijaya, Selasa (17/2).
Wanita 30 tahun yang lahir dan besar di Kota Tepian ini menjelaskan tekstur kue yang lengket menyerupai dodol dengan rasa manis tersebut memiliki makna mendalam agar hubungan keluarga senantiasa akur dan tidak terpisahkan.
Selain kue keranjang yang menjadi primadona, meja makan keluarga juga selalu dipenuhi dengan penganan khas lain, seperti lapis legit, nastar, dan sajian teh China untuk menjamu tamu.
Bagi Fransisca, momen yang paling dirindukan dari perayaan ini adalah masakan ibunya yang hanya disajikan setahun sekali, sehingga menciptakan kenangan kuliner yang tak tergantikan.
Tradisi lain yang pantang dilewatkan adalah kewajiban mengenakan pakaian baru berwarna terang, khususnya merah, dan menghindari warna gelap sebagai simbol harapan akan masa depan yang cerah.
Prosesi silaturahim dilakukan dengan urutan yang sangat tertib, dimulai dari mengunjungi anggota keluarga tertua hingga yang paling muda, menyerupai tradisi Lebaran pada muslim.
Fransisca juga menyoroti pergeseran suasana di kelenteng saat ini yang terasa lebih sepi dibandingkan masa kecilnya dulu, di mana ritual pembakaran hio kini hanya diperbolehkan di area luar bangunan.








































