jpnn.com, JAKARTA - Pengamat Ekonomi Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita menyoroti nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus-terusan ambrol.
"Situasi hari ini bukan lagi fluktuasi musiman atau dinamika teknikal biasa," ujar Ronny kepada wartawan, Senin (8/6).
Ronny mengatakan jebolnya level psikologis Rp 18.100-an per USD adalah sebuah "wake-up call" yang sangat keras bagi perekonomian nasional.
Menurutnya, hal itu merupakan akumulasi dari kombinasi kompleks antara tekanan eksternal, seperti lonjakan harga minyak mentah pasca-eskalasi geopolitik Timur Tengah dan “tren safe-haven rush”.
Kemudian, kata Ronny, krisis kepercayaan domestik akibat ketidakpastian kebijakan fiskal, revisi prospek rating aset-aset finansial nasional, hingga isu independensi Bank Indonesia pasca-amendemen undang-undang oleh parlemen.
"Pasar saat ini tidak hanya kekurangan pasokan dolar, tetapi sedang mengalami krisis ekspektasi yang cukup mendalam," kata dia.
Oleh karena itu, intervensi pasar konvensional menggunakan cadangan devisa terbukti hanya menjadi penahan sementara yang berbiaya mahal dan berisiko memicu penurunan rating.
"Jika terus dilakukan cadangan terus terkuras habis," kata dia.







































