jateng.jpnn.com, SEMARANG - Di tengah banjir konten media sosial, ukuran sukses seorang kreator kini kerap diukur dari jumlah views, likes, dan seberapa cepat sebuah konten menjadi viral.
Namun, menurut pakar Psikologi Digital Binus University Semarang Gary Collins Brata Winardy, ada persoalan yang lebih penting daripada sekadar viralitas, yakni tanggung jawab atas pesan yang disampaikan kepada publik.
Gary menilai fenomena clickbait, informasi berlebih (information overload), hingga kaburnya batas antara influencer dan buzzer menjadi tantangan serius di era digital saat ini.
"Pertanyaannya bukan lagi bisa bikin konten viral atau tidak, tetapi setelah viral apakah pesannya dipahami dengan benar atau justru menimbulkan kegaduhan," ujar Gary kepada media, Selasa (9/6).
Sebagai dosen sekaligus Subject Content Coordinator Psikologi Digital Binus University Semarang, Gary menegaskan penggunaan judul sensasional atau clickbait sebenarnya bukan masalah utama.
Menurutnya, persoalan muncul ketika kreator hanya mengejar perhatian publik tanpa merasa perlu meluruskan atau menjelaskan informasi yang berpotensi disalahpahami.
"Clickbait bukan salah. Yang jadi masalah adalah ketika setelah konten tayang dan ramai, kreatornya lepas tangan. Mengedukasi itu tidak berhenti pada memberikan informasi, tetapi juga memastikan informasi tersebut ditangkap secara tepat," katanya.
Dia menjelaskan secara psikologis manusia memang lebih mudah tertarik pada informasi yang mengandung unsur kebaruan dan emosi.




































