jpnn.com - Menjelang arus mudik Lebaran 2026, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau, dan Ferry (Gapasdap) memberikan catatan kritis terkait kesiapan infrastruktur pelabuhan.
Pihaknya menyoroti kendala teknis di Pelabuhan Tanjung Api-Api (TAA), Sumatera Selatan, dan Pelabuhan Tanjung Kalian, Bangka Belitung yang dinilai berisiko menghambat kelancaran angkutan penumpang.
Ketua Bidang Tarif dan Usaha DPP Gapasdap Rahmatika Ardianto menerangkan ada dua persoalan utama yang harus segera mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat maupun daerah, yakni kondisi alur pelabuhan yang dangkal dan keterbatasan jumlah dermaga.
Menurut Rahmatika, kedalaman alur dan muka air dermaga di TAA saat ini rata-rata hanya sekitar 2,8 meter. Padahal, idealnya kedalaman berada di kisaran 3,5 hingga 4 meter agar kapal dapat bersandar dalam berbagai kondisi pasang surut.
“Sejak TAA operasional, belum pernah ada pengerukan. Akibatnya, kapal-kapal harus menunggu air pasang untuk bisa beroperasi. Contohnya hari ini, air surut sejak pukul 17.00 WIB dan baru bisa operasional kembali setelah pasang sekitar pukul 23.00 WIB,” terang Rahmatika, Selasa (3/3/2026).
Kondisi tersebut, lanjutnya, sangat memengaruhi operasional harian dan berpotensi menimbulkan keterlambatan, terutama saat lonjakan penumpang pada periode mudik Lebaran.
Ia menegaskan, pengerukan alur pelabuhan menjadi kebutuhan mendesak agar kapal besar dapat bersandar dengan optimal. Dengan alur yang lebih dalam, kapasitas angkut bisa ditingkatkan dan antrean kendaraan maupun penumpang dapat diminimalkan.
“Kalau dikeruk, kapal besar bisa masuk ke TAA. Masyarakat akan lebih nyaman dan antrean bisa berkurang. Saat ini kapal besar cukup sulit masuk karena keterbatasan kedalaman,” jelas Rahmatika.












































