jpnn.com, JAKARTA - Indonesia memiliki peluang strategis untuk mengembangkan produksi sulfur domestik seiring meningkatnya kebutuhan industri pengolahan nikel dan ekosistem baterai kendaraan listrik.
MIND ID sebagai holding pertambangan nasional telah mengidentifikasi potensi pemanfaatan by-product tambang tembaga dan emas sebagai sumber sulfur alternatif yang dapat menopang kebutuhan industri hilirisasi nikel dalam negeri.
Direktur Perencanaan Pengolahan Sumber Daya Mineral MIND ID Budi Santoso mengungkapkan MIND ID bersama anggota holding sedang melakukan inventarisasi aktif terhadap potensi tersebut.
"Kita memiliki by product itu tembaga maupun emas itu ada iron oxide dan iron sulfate yang mestinya itu bisa kita proses, diolah, diekstrak untuk menjadi dan diambil sulfurnya maupun diambil dan dijadikan asam sulfat untuk memenuhi hal tersebut," ujar Budi dalam diskusi Mineral Kritis Indonesia di Tengah Krisis Energi Dunia di Jakarta, Rabu (17/6).
Langkah ini merupakan bagian dari strategi MIND ID untuk memperkuat perannya sebagai penggerak hilirisasi mineral nasional, tidak hanya di sisi penambangan, tetapi juga dalam membangun rantai pasok bahan pendukung yang lebih mandiri.
Kebutuhan Sulfur
Sulfur merupakan komponen kritis dalam proses High Pressure Acid Leach (HPAL), teknologi utama yang digunakan untuk mengolah bijih nikel limonit menjadi produk antara, seperti mixed hydroxide precipitate (MHP) yang digunakan sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik.
Adapun, skala kebutuhannya tergolong besar, dengan asumsi produksi satu ton MHP membutuhkan sekitar 11,7 ton sulfur.








































