jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Dalam rangka menyemarakkan Hari Jadi ke-79 Kota Yogyakarta, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta meluncurkan gerakan gotong-royong merenovasi rumah warga. Sampai saat ini sudah 30 unit rumah tidak layak huni (RTLH) berhasil direnovasi hanya dalam kurun waktu satu bulan melalui kolaborasi lintas sektor yang mengesankan.
Seluruh proses renovasi ini diklaim tidak menggunakan APBD maupun APBN, tetapi dari semangat gotong royong masyarakat dan dukungan pihak swasta.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengungkapkan bahwa dari 30 rumah tersebut, 22 unit di antaranya didanai melalui donasi masyarakat dan pengusaha yang terkumpul hanya dalam waktu sepekan. Sisanya, delapan unit merupakan bagian dari program rutin pemerintah.
"Kami menggerakkan semangat gotong royong ini sebagai wujud syukur. Hasilnya luar biasa, total 30 rumah selesai dalam sebulan tanpa dana pemerintah pusat atau daerah," ujar Hasto saat penyerahan program CSR Bedah Rumah di kawasan Ngampilan, Minggu (8/6).
Salah satu keunggulan program ini adalah integrasi aspek lingkungan. Pemkot Yogyakarta berinovasi dengan memanfaatkan material bangunan ramah lingkungan.
Sebagian atap dan dinding rumah hasil bedah rumah dibuat menggunakan teknologi "eco-brick" yang diolah dari limbah plastik, saset kopi, dan tutup botol.
Hasto menegaskan bahwa inisiatif ini bertujuan memberi optimisme bahwa sampah bisa memberikan manfaat nyata.
"Ini adalah rumah perdana yang kami bangun dengan material olahan sampah yang dicetak menjadi genteng dan dinding. Ke depan, kami akan terus didukung riset dari UGM," tambahnya.




































