jpnn.com, JAKARTA - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, bersama dengan Kedutaan Besar Swiss dan Program Pembangunan Perserikatan BangsaBangsa (UNDP) resmi meluncurkan fase kedua Sustainable Landscape Program Indonesia (SLPI) pada Senin (22/6).
Adapun fase kedua menandai babak baru kerja sama untuk memperkuat tata kelola lanskap berkelanjutan, mata pencaharian masyarakat pedesaan, dan rantai nilai komoditas yang tangguh di Indonesia.
Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN Y.M. Olivier Zehnder menyampaikan bertepatan dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Swiss dan Indonesia, pihaknya melihat SLPI sebagai bukti nyata bahwa kemitraan yang kuat dapat menghasilkan dampak yang berkelanjutan.
“Melalui Fase I, kami telah menunjukkan pengelolaan lanskap yang berkelanjutan tidak hanya melindungi hutan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan membuka akses ke peluang pasar yang lebih baik,” ungkap Olivier.
Dia mengungkapkan berbekal landasan pencapaian Fase I yang dilaksanakan pada 2023–2025 dengan dukungan dari Sekretariat Negara Swiss untuk Urusan Ekonomi (SECO), SLPI Fase II (2026-2029) akan berfokus pada upaya membawa pendekatan yang telah terbukti berhasil dari tahap percontohan menuju sistem yang lebih kuat.
“Melalui Fase II, kami berkomitmen untuk melanjutkan dan memperluas capaian tersebut, sekaligus memastikan praktik-praktik yang telah terbukti berhasil dapat terintegrasi dalam sistem dan terus memberikan manfaat jangka panjang,” jelas Olivier.
Dia optimistis program tersebut akan membantu menjadikan kemitraan multipemangku kepentingan ini sebagai bagian tetap dari cara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha bekerja sama, memantau lebih dekat apa yang berhasil.
“Juga membangun pendanaan yang lebih stabil, sehingga hasilnya dapat terus berlanjut jauh setelah program ini berakhir,” ucap Olivier.








































