jabar.jpnn.com, BOGOR - Pakar Manajemen Publik Nandang Sutisna membantah anggapan bahwa film dokumenter Pesta Babi berpotensi menjadi instrumen kampanye disintegrasi bangsa sebagaimana muncul dalam sejumlah pemberitaan.
Menurut Nandang, mengaitkan sebuah karya film dengan ancaman terhadap keutuhan nasional merupakan pendekatan yang terlalu sederhana dan berpotensi mengalihkan perhatian publik dari persoalan yang lebih mendasar.
“Film bukan penyebab disintegrasi bangsa. Ancaman terbesar terhadap persatuan justru lahir dari ketidakadilan yang dibiarkan, penindasan yang tidak diselesaikan, dan pengabaian terhadap hak-hak dasar masyarakat,” kata Nandang dalam keterangannya, Senin (8/6).
Kritik Merupakan Bagian dari Evaluasi Kebijakan
Nandang menjelaskan, dalam perspektif manajemen publik modern, kritik merupakan bagian penting dari mekanisme evaluasi kebijakan.
Melalui kritik, pemerintah dapat memperoleh umpan balik mengenai berbagai persoalan yang terjadi di lapangan sekaligus melakukan perbaikan terhadap kebijakan yang belum berjalan optimal.
Karena itu, ia menilai kritik tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman terhadap negara. Sebaliknya, kritik merupakan instrumen yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan.
“Yang harus diuji adalah substansi kritiknya. Apakah kritik tersebut memiliki dasar fakta atau tidak, apakah argumennya dapat dipertanggungjawabkan atau tidak. Jangan langsung memberi label seperti makar, disintegrasi, atau chaos yang justru mengaburkan pokok persoalan,” ujarnya.




































