jateng.jpnn.com, BLORA - Fenomena tanah bergerak di Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, kian mengkhawatirkan. Rekahan baru kembali muncul di wilayah terdampak, bahkan jaraknya hanya sekitar satu meter dari rekahan lama yang sebelumnya telah terbentuk.
Kapolsek Banjarejo AKP Gembong mengungkapkan bahwa pergerakan tanah tersebut memicu penurunan permukaan tanah di sejumlah titik dengan kedalaman bervariasi antara 40 hingga 50 sentimeter. Kondisi ini tak hanya terjadi di area lama, tetapi mulai merambah lokasi-lokasi yang sebelumnya aman.
“Di beberapa titik, penurunan justru terjadi di area yang sebelumnya tidak terdampak. Sekarang pergerakan tanah meluas hingga ke permukiman warga,” kata AKP Gembong, Sabtu (3/1).
Sedikitnya tiga rumah warga dan kandang ternak dilaporkan terdampak akibat fenomena ini. Dua rumah mengalami kerusakan cukup parah.
Pada salah satu rumah, tembok dilaporkan ambles hingga sekitar 50 sentimeter, memicu kekhawatiran akan keselamatan penghuni.
AKP Gembong menyebutkan panjang area terdampak diperkirakan mencapai sekitar 200 meter. Namun, arah pergerakan tanah kini tak lagi memanjang, melainkan melebar ke sisi-sisi lain, termasuk ke arah permukiman padat penduduk.
Dampak pergerakan tanah juga dirasakan langsung oleh warga. Peniwati, salah satu warga terdampak, mengaku selama satu bulan terakhir terpaksa menguruk bagian belakang dapur rumahnya menggunakan satu unit mobil colt dan satu truk material. Area yang diuruk memiliki panjang sekitar 7 meter dan lebar 5 meter.
Hal serupa dialami Nur Hidayah. Ia menyebut tanah di sekitar rumahnya amblas dengan panjang sekitar 6 meter dan lebar 4 meter. Sementara Sahid, warga lainnya, mengungkapkan lahan miliknya ikut terdampak dengan ukuran sekitar 12 meter kali 9 meter.












































