jpnn.com - HAMPIR setengah abad yang lalu, pada 1980-an pesantren masih terbelakang sebagaimana masyarakat pada umumnya.
Pada saaat itu ada gagasan cemerlang dari Dawam Rahardjo dan LP3ES untuk melakukan riset advokasi pengembangan pesantren.
Gus Dur ada di dalamnya ikut terlibat meskipun pada akhirnya berbeda pendapat dan berpisah, sama-sama menjadi peneliti di LP3ES.
Ide dasar dari riset advokasi ini adalah modernisasi pesantren, yang didukung oleh lembaga-lembaga LN seperti FNS Jerman, USAID dan lain-lain. Ide dasar modernisasi pesantren, jika berhasil memajukan pesantren maka Indonesia akan maju dan modern.
Gerakan itu didasarkan pada masalah faktual di pedesaan dan pesantren pada umumnya, yakni masalah kemiskinan, pendidikan terbatas, dan ketrampilan rendah.
Kini setelah setengah abad pesantren sudah berkemajuan sangat luar biasa. Mobilitas vertikal masyarakat pesantren berjalan sangat pesat.
Kelas menengah di pesantren meningkat luar biasa, kaum intelektual tumbuh cepat di pesantren dan banyak doktor dan guru besar tumbuh dari lingkungan pesantren -dalam hal ini lingkungan NU.
Sudah berbeda jauh dengan keadaan setengah abad yang lalu. Namun, masih banyak yang tertinggal dan ketimpangan yang masih relatif lebar.








































