jpnn.com, JAKARTA - Akademisi dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Esa Unggul Dr. Iswadi, M.Pd. menyampaikan apresiasi kepada pemerintah, para pemangku kepentingan, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pembangunan hunian sementara bagi para korban bencana di Aceh.
Dr. Iswadi menilai upaya ini merupakan langkah nyata yang mencerminkan kepedulian, tanggung jawab kemanusiaan, serta komitmen bersama dalam memastikan para penyintas dapat kembali menjalani kehidupan dengan aman, layak, dan bermartabat. Iswadi menyebutkan hunian sementara bukan hanya tempat berlindung, tetapi juga ruang awal pemulihan fisik, sosial, dan psikologis masyarakat terdampak.
"Saya berharap pembangunan ini terus dilaksanakan secara berkelanjutan, berorientasi pada kebutuhan masyarakat, serta diiringi dengan perencanaan yang matang menuju hunian tetap. Semoga ikhtiar ini menjadi amal kebaikan dan memperkuat semangat kebersamaan dalam membangun Aceh yang tangguh," ungkap Iswadi dikonfirmasi, Jumat (2/1).
Dia juga menyarankan agar pembangunan hunian sementara dilakukan dengan mengacu pada standar hunian sementara yang pernah diterapkan pascabencana tsunami Aceh.
Sebab, standar tersebut telah terbukti memperhatikan aspek keamanan, kelayakan huni, kesehatan lingkungan, serta kebutuhan sosial masyarakat terdampak.
"Dengan menerapkan standar yang telah teruji, diharapkan hunian sementara tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal darurat, tetapi juga mampu mendukung proses pemulihan yang lebih baik dan bermartabat," pungkas Iswadi.
Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur dan Pengurus Pusat Taman Iskandar Muda (PPFTIM) Umaimah Wahid menilai hunian adalah hal sangat penting bagi masyarakat yang terdampak bencana Aceh.
"Patut diapresiasi langkah pemerintah ini. Namun, jangan sampai berhenti sampai pembangunan rumah sementara," ungkap Umai.















































