jpnn.com, JAKARTA - Dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr. Djaja Surya Atmadja, Ph.D., mengingatkan agar galon guna ulang berbahan polikarbonat tidak digunakan lebih dari satu tahun karena berpotensi meningkatkan risiko paparan zat kimia Bisphenol A (BPA).
Menurut dr. Djaja, batas usia pakai galon tidak hanya berkaitan dengan kebersihan atau kondisi fisik kemasan.
Makin lama galon digunakan dan menjalani siklus distribusi serta pengisian ulang, semakin besar peluang BPA meluruh ke dalam air minum.
Di menegaskan bahwa galon guna ulang seharusnya memiliki batas usia pakai yang jelas. Galon yang telah digunakan lebih dari satu tahun sebaiknya ditarik dari peredaran dan diganti dengan kemasan baru.
“Isi ulangnya itu tidak boleh dipakai lebih dari setahun. Karena pelan-pelan dia (BPA) akan melarut ke dalam itu,” ujar dr. Djaja dalam program siniar bersama Prof. Rhenald Kasali yang disiarkan pada 1 Juni 2026.
Dia menjelaskan, usia galon menjadi faktor penting dalam pembahasan risiko BPA karena semakin lama kemasan berada dalam siklus penggunaan, makin lama pula peluang zat tersebut terlepas dari material polikarbonat ke dalam air yang dikonsumsi masyarakat.
Namun, menurutnya, konsumen umumnya tidak mengetahui usia galon yang mereka terima. Saat membeli air minum dalam kemasan galon, konsumen hanya melihat kondisi air dan kemasan secara kasat mata tanpa mengetahui berapa lama galon tersebut telah beredar.
Kondisi tersebut membuat masyarakat sulit memastikan apakah galon yang digunakan masih berada dalam masa pakai yang aman atau sudah terlalu lama digunakan secara berulang.







































