jpnn.com, JAKARTA - Kehadiran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), mulai dipandang sebagai langkah besar pemerintah membenahi wajah pengelolaan BUMN di Indonesia.
Danantara disebut membawa misi besar: mengakhiri praktik inefisiensi, tumpang tindih bisnis, hingga birokrasi berlapis yang selama ini membebani perusahaan-perusahaan pelat merah.
Isu itu mengemuka dalam Debat Publik bertajuk Pertaruhan Besar Negara via Danantara pada Restrukturisasi BUMN yang digelar Nagara Institute bersama Akbar Faizal Uncensored (AFU).
Sejumlah ekonom dan pengamat menilai Danantara berpotensi menjadi pusat konsolidasi kekuatan ekonomi nasional, lewat pengelolaan aset BUMN yang lebih terintegrasi dan profesional.
Kepala Pusat Ekonomi Makro & Keuangan INDEF, Rizal Taufikurahman, mengatakan Danantara dapat menjadi fondasi baru pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Menurut dia, pengelolaan aset gabungan BUMN yang nilainya mencapai sekitar Rp1.650 triliun, memberi ruang besar untuk menciptakan efisiensi sekaligus investasi produktif.
“Danantara menjadi langkah strategis untuk merestrukturisasi aset dan investasi BUMN agar lebih produktif, serta berpotensi menjadi mesin investasi nasional baru,” ujar Rizal.
Dia menilai langkah tersebut bisa memperkuat hilirisasi dan industrialisasi nasional hingga mendorong pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sekitar 1,6 persen.











































