jpnn.com, PALEMBANG - PT Dharma Lautan Utama (DLU) mengeluhkan tingginya biaya operasional pelayaran yang kian tertekan oleh fluktuasi nilai tukar mata uang asing.
Kondisi ini dinilai membebani para pelaku usaha ditengah situasi ekonomi global yang belum stabil.
Direktur Utama PT Dharma Lautan Utama (DLU) Erwin H Poedjono mengungkapkan bahwa biaya operasional perusahaan angkutan pelayaran sangat rentan terhadap fluktuasi mata uang asing.
Terpantau pada Senin (2/2/2026), kurs Dolar AS terhadap Rupiah telah menyentuh angka Rp 16.806,15. Sementara, Kementerian Perhubungan dinilai belum menunjukkan keberpihakan pada pengusaha swasta yang selama ini telah membantu mobilitas perekonomian lintas pulau.
Sedangkan operasional kapal tetap berjalan di tengah tantangan pembengkakan biaya komponen.
"Sekitar 80 persen komponen biaya operasional kami, mulai dari suku cadang (spare parts), perawatan harian, pengedokan (docking), hingga pemenuhan alat keselamatan, mengikuti kurs Dolar AS," ungkap Erwin, Selasa (3/2/2026).
Kata Erwin, meskipun tantangan itu sangat memberatkan, perusahaannya terus berkomitmen memberikan pelayanan terbaik tanpa menurunkan standar keselamatan angkutan pelayaran.
“Selama ini kami dituntut untuk memberikan layanan keselamatan dan kenyamanan sesuai dengan standarisasi UU Pelayaran no 17 Tahun 2008, dan persyaratan internasional (SOLAS) sebagai konsekuensi ratifikasi IMO yang membutuhkan biaya cukup tinggi," kata Erwin.



















.jpeg)
























