jateng.jpnn.com, SEMARANG - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menyebut nelayan masih menjadi kelompok profesi termiskin di Indonesia.
Zulhas mengatakan rendahnya nilai tukar nelayan menjadi tantangan yang harus segera diselesaikan di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Masyarakat yang paling miskin profesinya nelayan. Nelayan pada 2026 nilai tukarnya cuma 103. Doakan tahun depan, akhir 2027 saya dan teman-teman, di bawah pimpinan Pak Prabowo akan coba nilai tukar nelayan ini dari 103 menjadi 120,” ujar Zulhas saat sambutan di Musyawarah Nasional (Munas) Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) di Politeknik Negeri Semarang (Polines), Senin (27/7).
Dia menyatakan kemiskinan nelayan bukan disebabkan kurangnya etos kerja. Menurutnya, para nelayan justru rajin melaut dan mampu memperoleh hasil tangkapan yang melimpah.
Namun, persoalan muncul ketika hasil tangkapan dibawa ke darat. Nelayan dinilai tidak memiliki posisi tawar dalam menentukan harga sehingga bergantung pada tengkulak.
“Nelayan kita melaut rajin dapat ikan banyak. Begitu sampai di darat, dia tidak punya daya tawar. Datang tengkulak, harga ikan harusnya Rp 50.000, ditawar Rp 30.000. Nelayan tidak berdaya. Kalau tidak dijual ikannya busuk,” katanya.
Kondisi tersebut, lanjut Zulhas, membuat nelayan terus berada dalam lingkaran kemiskinan. Tidak sedikit yang akhirnya meminjam uang kepada rentenir atau tengkulak dengan bunga tinggi sehingga membuat ketergantungan kian besar.
“Terus-menerus, apa yang terjadi? Nelayan tergantung akhirnya dia pinjam uang kepada rentenir, tengkulak dengan bunga 1 persen 1 hari. Dia tergantung sama tengkulak. Boleh dicek nelayan Indonesia. Sama juga hidupnya seperti budak,” ujarnya.








































