jpnn.com, JAKARTA - Akademisi Barisan Oposisi Indonesia (BOI) Ubedilah Badrun menyebut langkah Presiden RI Prabowo Subianto hadir ke Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Board of Peace (BoP), kontradiksi dengan prinsip politik luar negeri negara.
"Saya menilai bergabungnya Prabowo ke BoP sesungguhnya menyalahi prinsip politik bebas aktif," kata Kang Ubed sapaan Ubedilah Badrun melalui layanan pesan, Minggu (15/2).
Menurut dia, banyak negara yang tergabung dalam BoP berstatus bangsa kolonialis seperti AS dan Israel serta perwakilan mereka hadir pula di KTT organisasi tersebut.
"Ya, sementara Indonesia itu negara yang menolak kolonialisme," lanjut Kang Ubed.
Presiden Prabowo berencana menghadiri KTT BoP bentukan Presiden AS Donald Trump setelah organisasi terbentuk.
Prabowo berpotensi berunding dengan Presiden Israel Benyamin Netanyahu dalam KTT tersebut.
Menurut Kang Ubed, Prabowo tidak akan berunding ketika berbicara dengan Netanyahu, karena eks Danjen Kopassus itu bakal didikte Israel dan AS.
"Prabowo akan didikte oleh Netanyahu dan Donald Trump. Sebab Netanyahu sejak awal tidak menghendaki Palestina merdeka, tetapi mereka akan fokus pada konsep New Gaza dan pelucutan HAMAS," ujarnya.









































