jpnn.com - Seluruh raksasa migas diundang ke Gedung Putih: Selasa kemarin. Temanya: Venezuela. Yakni bagaimana agar minyak Venezuela bisa secepat mungkin ditarik dari perut buminya.
Maksudnya: agar uang hasil minyak itu bisa segera untuk Amerika Serikat, perusahaan minyak Amerika dan untuk rakyat Venezuela.
Presiden Donald Trump membuka acara dengan pamer proyek ballroom di komplek Gedung Putih: yang kalau sudah jadi kelak akan menjadi ballroom terbesar dan terhebat di dunia --ia biasa bicara serba ”ter” seperti itu.
Di depan para CEO minyak itu, Wakil Presiden JD Vance memuji kepemimpinan Trump setinggi langit: hanya Trump yang bisa melakukan operasi begitu besar di Venezuela: tanpa satu pun tentara Amerika kehilangan nyawa.
Wapres duduk di kanan Trump. Di sebelah kirinya: Menlu Marco Rubio --yang juga menyanjung Trump setinggi sanjungan yang diberikan wapres. Dua tokoh itu sendiri akan bersaing di Pilpres tiga tahun lagi. Utamanya manakala Trump tidak bisa nyapres kali ketiga.
Venezuela adalah pemilik cadangan minyak terbesar di dunia. Harus diamankan Amerika.
"Saya tidak mau Tiongkok dan Rusia di sana," ujar Trump. Mereka boleh dapat minyak Venezuela hanya sebatas sebagai pembelinya.
Dengan menguasai Venezuela, terjaminlah pasok energi Amerika. Dalam jangka yang sangat panjang. Amerika menjadi yang terkuat cadangan energinya di dunia.

.jpeg)











































