jpnn.com, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) melaporkan utang luar negeri (ULN) Indonesia pada triwulan I 2026 tumbuh melambat.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan rasio utang Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) yang turun menjadi 29,5 persen.
Posisi ULN Indonesia pada triwulan I 2026 tercatat sebesar USD 433,4 miliar atau secara tahunan (year on year/yoy) tumbuh sebesar 0,8 persen, melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan IV 2025 sebesar 1,9 persen.
“Perkembangan posisi ULN tersebut dipengaruhi oleh ULN sektor publik dan ULN sektor swasta,” ujar Ramdan, Senin (18/5).
Lebih lanjut, posisi ULN pemerintah pada triwulan I 2026 sebesar USD 214,7 miliar atau tumbuh sebesar 3,8 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan IV 2025 sebesar 5,5 persen (yoy).
Ramdan menjelaskan perkembangan ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi oleh aliran modal masuk asing pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional seiring dengan tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia.
BI menyebutkan sebagai salah satu instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), ULN pemerintah dikelola secara cermat, terukur, dan akuntabel dengan pemanfaatan yang terus diarahkan untuk mendukung belanja prioritas pemerintah dan memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi.
Berdasarkan sektor ekonomi, ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (22,1 persen dari total ULN pemerintah); administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (20,2 persen); jasa pendidikan (16,2 persen); konstruksi (11,5 persen); serta transportasi dan pergudangan (8,5 persen).








































