jpnn.com - MAKASSAR – Dampak gempa Flores Agustus 2026, sekitar 50 Kepala Keluarga (KK) di Kabupaten Kepulauan Selayar, Provinsi Sulawesi Selatan, masih bertahan di pengungsian di wilayah perbukitan.
Mereka bertahan di perbukitan lantaran trauma dengan dampak gempa Flores yang terjadi pada Desember 2021.
"Mereka masih trauma dengan kejadian serupa pada 2021 sehingga 50-an KK di Kecamatan Pasimarannu masih memilih tinggal di lokasi perbukitan," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Kepulauan Selayar Muhammad Ikbal saat dikonfirmasi dari Makassar, Minggu (16/8).
Dia mengatakan keputusan warga untuk tetap berada di pengungsian tidak terlepas dari pengalaman buruk saat gempa magnitudo 7,4 pada 14 Desember 2021.
Saat itu, gempa yang berpusat di wilayah Flores turut dirasakan kuat di Selayar, khususnya Kecamatan Pasilambena dan Pasimarannu.
Sejumlah rumah warga mengalami kerusakan parah, bahkan ada yang roboh dan rata dengan tanah.
Menurut dia, warga mempunyai alasan tersendiri sehingga masih bertahan di lokasi pengungsian, karena mereka trauma dengan kejadian sebelumnya, terutama kejadian 2021.
Saat gempa kembali terjadi, warga di dua kecamatan tersebut secara mandiri menyelamatkan diri menuju kawasan perbukitan. Di Pasimarannu tercatat sekitar 278 KK mengungsi, sementara di Pasilambena sekitar 130 KK.

















.jpeg)























