Transpuan di Indonesia Masih Mengalami Serangan, Inilah Sejumlah Penyebabnya

1 day ago 29

Transpuan di Indonesia Masih Mengalami Serangan, Inilah Sejumlah Penyebabnya

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Echa Wao’de mengatakan transpuan yang sebelumnya masih bisa tampil di ruang publik kini mulai merasa takut. (Koleksi pribadi)

Peringatan: Artikel ini memuat detail tentang transfobia, homofobia, dan kekerasan.

Pada suatu malam, sekelompok pria menghampiri seorang transpuan dan menyiramnya dengan cairan yang tampak seperti urine.

Setelah sempat meneriaki para pria itu sebagai bentuk protes, korban kemudian berusaha melarikan diri, seperti terlihat dalam video yang diunggah ke media sosial pada 15 Juli lalu.

Para pelaku terus mengejarnya. Salah satu dari mereka bahkan terlihat berusaha memukul korban dengan benda yang tampak seperti balok kayu.

Insiden ini hanya satu dari sepuluh serangan yang menimpa 45 transpuan di Bogor sepanjang 30 Maret hingga 15 Juli 2026, menurut Pelangi Nusantra, sebuah kelompok advokasi LGBTQIA+.

Para pelaku biasanya memukul dan menendang transpuan, melempari mereka dengan batu, botol kaca, bahkan petasan, serta menelanjangi sebagian korban. Laporan Pelangi Nusantara menyebut serangan-serangan itu menyebabkan luka fisik dan trauma pada para korban.

Amnesty International Indonesia mencatat serangan-serangan biasanya dilakukan oleh kelompok yang terdiri dari sekitar 10 hingga 20 pria. Para pelaku juga merekam aksi mereka dan mengunggahnya ke media sosial.

Data dari Arus Pelangi menunjukan peningkatan kekerasan yang tercatat terhadap kelompok LGBTQIA+, dari 28 kasus pada 2024 menjadi 66 kasus pada 2025, dengan total 141 korban dalam dua tahun tersebut.

Serangkaian serangan terhadap transpuan di Bogor menyoroti meningkatnya kekerasan anti-LGBTQ+ di Indonesia

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |