jatim.jpnn.com, MALANG - Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mulai menghitung nilai kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Gunung Bromo. Penghitungan dilakukan setelah tim gabungan menyelesaikan proses pemadaman dan penanganan awal kebakaran di sejumlah kawasan.
Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan penghitungan kerugian mencakup berbagai aspek, mulai dari dampak terhadap lingkungan hingga sektor ekonomi.
"Saat ini staf kami sedang menghitung karena komponennya banyak, ada kerugian lingkungan sampai dengan ekonomi," kata Rudi melalui video pernyataan yang diterima secara daring di Malang, Senin (17/8).
Menurut dia, penghitungan baru dilakukan karena sebelumnya TNBTS bersama tim gabungan memprioritaskan pemadaman api. Selain itu, petugas perlu mengidentifikasi terlebih dahulu area yang terdampak kebakaran sebelum menghitung nilai kerugian.
"Tentunya tidak mudah untuk menghitung, kami akan hitung dan menyampaikannya," ujarnya.
Rudi mengatakan biaya yang dikeluarkan selama proses pemadaman karhutla di Gunung Bromo juga belum dapat dipastikan. Sebab, penanganan kebakaran melibatkan banyak unsur, sehingga laporan penggunaan sumber daya dari masing-masing pihak masih perlu dikumpulkan dan disatukan.
"Kami tidak sendiri, tetapi ada TNI, Polri, sampai Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Oleh karena itu, semua (laporan) belum disatukan sehingga besarannya belum diketahui," jelasnya.
Sementara itu, seluruh pintu akses wisata menuju kawasan Gunung Bromo masih ditutup untuk wisatawan. Penutupan tersebut telah diberlakukan sejak Sabtu (8/8) hingga saat ini sebagai bagian dari upaya penanganan dan pemulihan kawasan setelah kebakaran.






































