jpnn.com, JAKARTA - Transisi menuju era ekonomi serba cashless nyatanya belum sepenuhnya menyentuh masyarakat di tingkat akar rumput.
Fakta di lapangan menunjukkan masih banyak warga desa hingga pinggiran kota yang sangat bergantung pada perputaran uang fisik.
Di sisi lain, ekosistem perbankan seringkali terasa berjarak bagi warga biasa yang kerap merasa canggung atau kurang percaya diri untuk sekadar datang ke kantor cabang lantaran hanya mengenakan pakaian santai sehari-hari.
Sehari-hari mereka memerlukan layanan keuangan untuk tarik tunai, berbelanja, hingga mencairkan Bantuan Sosial (Bansos) Program Keluarga Harapan (PKH).
Menjawab tantangan riil tersebut, penyedia layanan transaksi keuangan EDC Orderkuota kini hadir menjembatani kesenjangan akses finansial. Perangkat ini tak sekadar menjadi alat bayar biasa, tetapi dirancang sebagai solusi hibrida yang menyulap toko kelontong atau agen pulsa biasa menjadi pusat layanan perbankan mini yang ramah bagi warga sekitar.
Menghapus Jarak, Memutus Birokrasi Bank
Banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang sebenarnya sangat berpotensi membuka layanan keuangan mandiri. Namun, mereka kerap kali terbentur oleh ketatnya birokrasi pengajuan mesin Electronic Data Capture (EDC) ke pihak bank, belum lagi ditambah adanya bayang-bayang beban target transaksi bulanan yang memberatkan.
"Momentum akselerasi EDC Orderkuota di tahun 2026 ini berangkat dari cerita riil para mitra di lapangan," ungkap Head Partnership & Open Banking Orderkuota, Tegar Herlambang saat di Jakarta, beberapa waktu lalu.







































