jpnn.com - Jadi presiden itu secukupnya. Jadi warga negara itu selamanya. Kalimat itu saya comot dari Muktamar Nahdlatul Ulama di Tambakberas, Jombang, bulan lalu: jadi pengurus itu secukupnya, jadi Nahdliyin itu selamanya.
Dengan kredo itu NU berhasil meredam kekecewaan akar rumput yang merasa jago mereka tidak terpilih jadi rais aam maupun ketua umum. Tapi itu juga menyadarkan bahwa jadi warga NU lebih penting dibanding jadi pengurus –pengurus pusat sekali pun.
Kekecewaan akar rumput itu tecermin dari berbagai ceramah dan meme yang diunggah di medsos. Ada ceramah di kampung yang mendapat dukungan tepuk tangan meriah: "Dari muktamar ini kita tahu yang di atas atas sana bagi-bagi uang, sedang kita, warga NU yang di bawah, urunan kumpul uang untuk NU".
Bagi saya apakah Muktamar ke-35 kemarin itu berhasil atau tidak baru bisa diketahui tiga-lima bulan ke depan: apakah Pengurus Besar NU yang baru bisa menangani masalah besar NU yang begitu banyak. Bahkan apakah PBNU tahu masalah besar apa saja yang dihadapi.
Dari diskusi dengan banyak anak muda NU terlihat setidaknya ada empat agenda besar ke depan. Empat-empatnya andalan NU: Islam Nusantara, gerakan madaniah, perekonomian akar rumput, dan kualitas pendidikan.
Sudah empat tahun soal Islam Nusantara seperti jarang jadi topik bahasan. Indonesia memerlukan NU justru karena NU mengembangkan Islam yang membumi di Nusantara. Bukan Islam yang identik dengan "Arabisasi".
Apalagi soal gerakan madaniah. Praktis sejak tidak ada lagi Gus Dur, NU seperti kehilangan tokoh yang terus menyuarakan nilai-nilai demokrasi, keadilan, penegakan hukum, dan pembelaan terhadap lapisan yang tertindas.
NU terlihat seperti dibawa ke pusat kekuasaan. Memang masih ada tokoh seperti AS Hikam dan Mahfud MD, tapi keduanya seperti tidak masuk arus utama di NU. Mungkin karena kedua tokoh tersebut lebih berwajah intelektual tanpa embel-embel Gus atau Kiai.

.jpeg)













































