jpnn.com, JAKARTA - Psikolog forensik sekaligus pengguna Commuter Line Reza Indragiri Amriel mengkritik keras penyataan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi terkait posisi gerbong khusus wanita.
Diketahui, Arifah mengusulkan gerbong khusus wanita dipindahkan dari paling depan dan belakang ke tengah rangkaian setelah kejadian kecelakaan kereta di Bekasi.
"Betapa absurdnya usulan Menteri PPPA ini," kata Reza melalui layanan pesan, Selasa (28/4).
Dia mengatakan penanganan terhadap korban kecelakaan kereta di Bekasi tak sepatutnya didasarkan ke jenis kelamin dalam situasi saat ini.
Namun, kata Reza, pernyataan Arifah memberi pesan bahwa saat ada tabrakan, jumlah korban perempuan harus dibatasi dan biar penumpang lelaki merasakan.
"Seolah Menteri ingin mengatakan, ketika terjadi tabrakan kereta, jumlah korban perempuan harus dikurangi, dan penumpang lelaki juga patut menjadi korban dengan jumlah yang setara," ujarnya.
Reza berempati terhadap penumpang perempuan yang berulang menjadi korban pelecehan seksual, sehingga pihak KAI memberikan gerbong khusus wanita di bagian depan dan belakang rangkaian.
"Ya, walau kita juga harus insafi bahwa penumpang lelaki juga bisa, bahkan telah menjadi korban pidana serupa," ujar dia.









































