Ratapan di Tanah Perjanjian

3 hours ago 17

Oleh: Laurens Ikinia - Peneliti di Institute of Pacific Studies dan Dosen Hubungan Internasional UKI, Jakarta

Ratapan di Tanah Perjanjian

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Peneliti di Institute of Pacific Studies dan Dosen Hubungan Internasional UKI Jakarta Laurens Ikinia. Foto: Source for JPNN.com

jpnn.com - Tanah Papua, benteng terakhir hutan tropis Indonesia dan paru-paru planet bumi menyimpan keindahan alam yang dipuja. Namun, juga memori yang kompleks.

Memori itu hidup dalam kisah lisan, dokumen, dan ruang eksibisi, mengandung nilai yang dalam.

Di Sorong Selatan, seorang perempuan suku Afsya bertanya, “Kenapa tra bunuh kitong satu kali?”

Pertanyaan ini bukan keluh kesah biasa, melainkan gema kecemasan eksistensial yang menghantui banyak komunitas adat di Tanah Papua.

Mereka merasa terkurung - dari darat oleh ekspansi sawit, dari laut oleh proyek karbon.

Di Merauke, berjarak ribuan kilometer, Liborius Moiwend berdiri di Mahkamah Konstitusi dengan suara lirih.

Ia bercerita tentang transformasi drastis tanah leluhur: dari hutan dan rawa penghidupan menjadi hamparan monokultur tebu.

Ia mempertanyakan narasi “panen raya” pemerintah yang mengaburkan asal-usul kemakmuran yang diklaim.

Menjaga hutan dan hak-hak masyarakat adat Papua bukanlah penghambat kemajuan, melainkan prasyarat untuk keberlanjutan dan kedamaian bangsa.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |