jpnn.com - Saya kagum pada siapa pun yang berhasil membuat demo UU Perampasan Aset itu berakhir jauh sebelum matahari tenggelam. Saya pun memaklumi kalau banyak yang kecewa: kok demonya berakhir begitu saja.
Dari situ saya melihat kematangan Mas Botok, tokoh sentral demo yang dari Pati, Jateng itu. Ia teguh pada tujuan: agar UU Perampasan Aset disahkan oleh DPR. Tidak mau ada tuntutan yang melebar ke mana-mana. Ketika tujuan pokoknya sudah tercapai ia mengajak masa dari Pati untuk bubar. Pulang.
Suasana audiensi Pimpinan DPR RI Sufmi Dasco Ahmad bersama perwakilan massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) di Gedung DPR RI.-Dok. Anisha Aprilia/Disway.id-
Mas Botok tidak peduli meski ia dimaki-maki banyak orang. Terutama oleh mereka yang merasa sudah berkorban menyokong demo itu lewat dana, air botol, roti, dan simpati. Lebih terutama lagi oleh para sutradara yang ingin demo berlanjut sampai matahari tenggelam: setelah gelap para sutradara itu bisa memainkan para stuntman untuk beraksi dalam kegelapan. Lalu bisa rusuh. Setelah rusuh terserah mereka: endingnya mau dibawa ke mana pun bisa. Kalau perlu sampai menyasar istana. Atau samping-samping istana.
DPR sebenarnya sudah mencoba meredam tuntutan Pati itu dua hari sebelum jadwal demo. Yakni dengan cara mengundang tokoh muda Pati ke DPR: Lukman Hakim. Didengarlah pendapatnya di DPR. Hasilnya? Justru bikin marah publik. Itu karena publik tahu Lukman Hakim bukanlah siapa-siapa di mata kelompok Mas Botok. Bahkan dianggap di seberang mereka.
Cara lain untuk mengurungkan demo juga sudah dilakukan: lewat "pembekuan" rekening Mas Botok di Bank Mandiri. Itulah rekening penampungan dana dari simpatisan untuk mendukung perjalanan pendemo ke Jakarta.
Maksudnya, mungkin, agar mereka tidak punya biaya untuk ke Jakarta. Bahkan siapa tahu bisa membuat orang takut mengirim donasi ke kelompok Mas Botok: kan bisa dicari-cari unsur pidananya.
Hasilnya?

.jpeg)







































