jpnn.com, BANJARBARU - Pakar Kesehatan Masyarakat dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mengingatkan bahwa kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan pembunuh diam-diam yang dapat merenggut nyawa secara perlahan maupun mendadak.
"Data dari berbagai penelitian menunjukkan saat kabut asap melanda, kunjungan ke rumah sakit meningkat hingga 40 persen, terutama untuk kasus gangguan pernapasan dan jantung," kata dia di Banjarbaru, Senin.
Sayangnya, kata dia, masih banyak masyarakat yang menganggap kabut asap sebagai "bencana biasa" yang harus diterima dengan pasrah.
"Anggapan ini keliru dan berbahaya," tegasnya.
Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) ULM ini menjelaskan kabut asap adalah kumpulan partikel halus dan polutan di udara yang dapat masuk hingga ke paru-paru.
Komponen utamanya adalah PM2.5 partikel berdiameter kurang dari 2,5 mikrometer. Untuk membayangkan betapa kecilnya ukuran ini, rambut manusia memiliki diameter sekitar 50–70 mikrometer.
"Artinya, PM2.5 lebih dari 20 kali lebih kecil dari rambut kita," ujarnya.
Karena ukurannya yang sangat kecil, PM2.5 tidak tertahan oleh rambut hidung atau lendir saluran napas bagian atas. Partikel ini meluncur langsung ke alveolus (kantung udara paru) dan bahkan dapat tembus ke aliran darah.









































